PenjuruNegeri.Com – Jakarta — Jumat sore itu, Jalan Blora, Menteng, berubah menjadi lautan jaket hijau. Ribuan pengemudi ojek online berbaris, menyalakan motor mereka, mengiringi kepergian seorang kawan: Affan, pengemudi ojol yang tewas tragis setelah dilindas mobil Brimob.

Prosesi pemakaman Affan bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjelma menjadi momen solidaritas besar-besaran. Di rumah duka, isak tangis keluarga berpadu dengan genggaman tangan erat para sahabat. Saat jenazah diangkat ke ambulans, puluhan helm hijau terangkat tinggi—sebuah salam perpisahan sederhana, namun penuh makna.

Di jalan menuju TPU, iring-iringan motor ojol membentuk pagar hidup. Klakson dibunyikan singkat, bukan untuk bising, melainkan sebagai tanda penghormatan terakhir. Jakarta yang biasanya riuh mendadak terasa hening di tengah deru mesin—seolah kota ini ikut berduka.

Solidaritas para pengemudi ojol adalah jawaban atas tragedi ini. Ketika negara gagal melindungi, kawan-kawan sesama profesi justru hadir dengan cara paling tulus: menemani Affan hingga ke liang lahat. Mereka membuktikan bahwa persaudaraan di jalanan bukan sekadar kata, melainkan kenyataan yang hidup.

Namun, di balik keharuan itu, kita diingatkan pada pertanyaan yang menggantung: mengapa seorang pencari nafkah sederhana harus kehilangan nyawanya di jalan, bukan karena nasib, tetapi karena kelalaian dan arogansi aparat?

Affan kini telah pergi. Tetapi prosesi pemakamannya meninggalkan jejak: solidaritas rakyat kecil yang kokoh, dan sebuah tuntutan yang tak bisa diabaikan—keadilan untuk setiap nyawa yang hilang.