PenjuruNegeri.Com – Aceh, Sumatera Utara & Sumatera Barat — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatra sejak akhir November telah berubah menjadi salah satu bencana alam paling mematikan di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa jumlah korban jiwa terus meningkat, dengan lebih dari 1.030 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang dalam operasi pencarian dan evakuasi yang berjalan intensif di tiga provinsi terdampak.

Skala Kerusakan yang Belum Pernah Terjadi

Dampak bencana ini sangat luas. Sekitar 139.485 unit rumah rusak — tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — menjadi saksi bisu dahsyatnya banjir dan longsor yang menerjang permukiman warga. Provinsi Aceh menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan puluhan ribu rumah rusak atau hanyut terbawa arus.

Ratusan ribu warga terpaksa mengungsi, hidup di tenda darurat, dan menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah maupun relawan. Infrastruktur vital seperti jembatan dan akses jalan juga rusak, memperlambat distribusi logistik ke wilayah yang masih terisolasi.

Bagaimana Bencana Ini Terjadi?

Curah hujan ekstrem yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar menjadi pemicu langsung dari bencana ini, menyebabkan sungai-sungai meluap dan lereng perbukitan longsor tanpa peringatan. Para ahli iklim internasional menekankan bahwa perubahan iklim global telah memperkuat intensitas badai dan curah hujan ekstrem, memperbesar dampak bencana di kawasan tropis seperti Asia Tenggara.

Selain itu, kerusakan ekosistem hutan di hulu daerah aliran sungai juga disebut sebagai faktor yang memperparah banjir. Pakar hidrologi dari universitas terkemuka menyatakan bahwa hilangnya tutupan hutan mengurangi kemampuan alam untuk menyerap dan menahan air hujan deras, sehingga air langsung mengalir ke permukiman dan lembah.

Respons Pemerintah dan Aksi Nasional

Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons krisis ini. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah menargetkan pemulihan kondisi di wilayah terdampak bisa kembali normal dalam 2–3 bulan ke depan, meskipun tantangan di lapangan sangat besar. Pemerintah juga mengalokasikan dana miliaran dolar untuk rekonstruksi rumah, infrastruktur, dan pembangunan fasilitas publik di zona paling parah terdampak.

Selain itu, TNI Angkatan Udara bersama BNPB mendirikan Pusat Krisis Nasional (National Crisis Center) di Jakarta untuk memperkuat koordinasi logistik dan data geospasial dalam penanggulangan darurat. Fasilitas ini dimaksudkan untuk mempercepat pengiriman bantuan dan mendukung tim tanggap bencana di garis depan.

Dampak Lingkungan: Ancaman Kepunahan Orangutan Tapanuli

Bencana juga berdampak besar pada kehidupan liar. Para ilmuwan konservasi memperingatkan bahwa banjir dan longsor ini menjadi kejadian yang mengancam keberadaan orangutan Tapanuli, primata paling langka di dunia yang hanya berada di habitat tertentu di Sumatra Utara. Puluhan individu diperkirakan tewas akibat kehilangan habitat dan kerusakan hutan yang masif.

Harapan dan Tantangan ke Depan

Di tengah duka, ribuan relawan dan organisasi kemanusiaan terus bekerja siang malam untuk mencari korban, memberikan bantuan langsung, serta membangun kembali kehidupan warga yang terdampak. Namun, seorang warga pengungsi di Aceh menyampaikan, “Kami kehilangan rumah, sawah, dan masa depan.” Harapan kini ditumpukan pada pemulihan cepat, tetapi juga upaya mitigasi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan.