PenjuruNegeri.Com – JAMBI — Kabar menggembirakan datang dari sektor perkebunan. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali menunjukkan tren positif pada awal April 2026. Berdasarkan penetapan resmi periode terakhir, harga sawit untuk usia tanaman produktif (10–20 tahun) tembus di kisaran Rp3.669 per kilogram, menguat dibanding periode sebelumnya.

Kenaikan ini menjadi angin segar bagi petani, terutama setelah sempat mengalami fluktuasi pada awal Maret lalu. Secara umum, harga sawit di Jambi kini berada di rentang Rp3.600 hingga Rp3.700 per kilogram untuk harga acuan resmi.

Namun demikian, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya seragam. Untuk petani swadaya atau non-plasma, harga yang diterima masih berada di kisaran Rp3.300 hingga Rp3.600 per kilogram, tergantung kualitas buah, jarak ke pabrik kelapa sawit (PKS), serta potongan biaya angkut dan sortasi.

Sejumlah petani mengaku tetap bersyukur atas tren kenaikan ini, meskipun selisih harga antara petani plasma dan mandiri masih menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi.

“Kalau dibanding bulan lalu, sekarang memang terasa naik. Tapi di lapangan tetap ada potongan, jadi tidak sama dengan harga yang ditetapkan,” ujar salah satu petani di wilayah Muaro Jambi.

Pengamat sektor perkebunan menilai, penguatan harga sawit saat ini dipengaruhi oleh stabilnya permintaan global terhadap minyak kelapa sawit (CPO), serta faktor produksi yang relatif terkendali.

Meski begitu, petani diimbau tetap menjaga kualitas panen dan memperhatikan waktu panen yang tepat agar mendapatkan harga optimal di tingkat pabrik.

Kesimpulan

Harga TBS sawit di Jambi saat ini berada dalam tren stabil cenderung naik, memberikan harapan baru bagi petani. Namun, disparitas harga antara petani plasma dan swadaya masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan.