PenjuruNegeri.Com – Sungai Air Batu di Kabupaten Merangin, Jambi, bukan sekadar bentang alam biasa. Ia adalah situs geologis warisan dunia, rumah bagi jejak fosil langka dari masa 300 juta tahun silam yang menjadikannya bagian dari Geopark Merangin Jambi—kandidat kuat dalam jaringan UNESCO Global Geopark. Namun ironi besar tengah terjadi: di balik keindahan dan nilai sejarahnya, sungai ini perlahan mati digerogoti tambang emas ilegal (PETI).

Aktivitas penambangan emas tanpa izin, menggunakan mesin dompeng, merkuri, sianida, dan metode “lobang jarum”, telah menyebar di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin, termasuk Air Batu. Sungai yang seharusnya dilindungi kini dipenuhi suara knalpot diesel, pencemaran air, dan lubang tambang. Bukannya dilestarikan, warisan purba ini justru dijarah secara kolektif, terang-terangan, dan dibiarkan.

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa PETI telah berlangsung sejak tahun 1960-an, kini kian marak dengan melibatkan warga lokal maupun pendatang luar daerah. Penegakan hukum pun tumpul di tengah jalan. Di Desa Mudo—hanya sepelemparan batu dari markas Polsek—kegiatan PETI tetap hidup, seolah mendapat “perlindungan tak resmi”. Sementara di beberapa titik seperti Tabir dan Bangko, polisi memang pernah menangkap pelaku dan membakar rakit, namun tindakan itu bersifat insidental, bukan solusi sistemik.

Tak hanya lingkungan rusak, kesehatan masyarakat pun terancam. Penggunaan bahan kimia seperti merkuri telah mencemari air sungai, ikan-ikan mati, bahkan risiko gangguan saraf, kerusakan hati, dan cacat lahir kini membayangi warga bantaran sungai. Sayangnya, suara masyarakat nyaris tak terdengar, ditenggelamkan oleh suara mesin dan aliran uang tambang.

Yang paling menyedihkan: fosil dan bebatuan purba—jejak kehidupan jutaan tahun lalu—ikut hancur oleh mesin dan galian tak bertanggung jawab. Padahal, kawasan ini memiliki nilai geologis luar biasa sebagai satu-satunya lokasi fosil batuan karang di Asia Tenggara dari masa Karbon-Permian. UNESCO dan para ahli geologi dunia memandang Merangin sebagai permata bumi yang langka.

Pertanyaan untuk Kita Semua

Apakah kita rela membiarkan situs sejarah ini lenyap demi emas sesaat? Apakah uang hasil PETI sebanding dengan kerugian ekologis dan hilangnya warisan dunia yang tak tergantikan?

Mengapa pemerintah daerah, kepolisian, dan lembaga lingkungan tidak bersinergi menyelamatkan Air Batu? Apakah kita harus menunggu hingga sungai ini benar-benar mati untuk sadar bahwa kita sedang membunuh masa depan dan melupakan masa lalu?

Rekomendasi Publik

  1. Stop pembiaran terhadap PETI. Warga tidak buta; mereka tahu di mana alat berat bekerja. Penegak hukum harus bertindak menyeluruh, bukan seremonial.
  2. Deklarasikan Sungai Air Batu sebagai kawasan konservasi terbatas, sejalan dengan status Geopark Merangin.
  3. Libatkan masyarakat dalam program pemantauan dan pelestarian sungai.
  4. Gandeng UNESCO dan komunitas internasional untuk menyuarakan ancaman ini ke dunia.
  5. Edukasi publik tentang pentingnya melindungi warisan geologis dan bahaya bahan kimia tambang.

Sungai Air Batu bukan hanya urusan Merangin, bukan hanya tentang Jambi. Ia adalah cermin masa lalu bumi dan milik generasi masa depan. Jika kita gagal menjaganya hari ini, sejarah tak hanya mencatat kerusakannya, tapi juga diamnya kita semua.

“Air Batu adalah buku sejarah terbuka yang kini hendak kita bakar sendiri. Jangan sampai generasi berikutnya hanya membaca fosil itu di buku—karena kita yang menghapusnya dari muka bumi.”