PenjuruNegeri.Com – Jambi — Aliran Sungai Batanghari berubah wajah. Pasca hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Jambi pada Minggu malam, air sungai yang biasanya menjadi nadi kehidupan kini dipenuhi tumpukan sampah dan potongan kayu berukuran besar.

Pemandangan ini bukan sekadar gangguan visual, melainkan sinyal kuat tentang kerusakan yang terjadi di hulu, dan dampaknya yang kini dirasakan hingga ke hilir.

Sejak Senin pagi, warga di sepanjang bantaran Sungai Batanghari melaporkan arus air yang keruh kecokelatan, disertai ranting, batang pohon, hingga limbah plastik yang terseret deras. Di sejumlah titik, tumpukan kayu bahkan terlihat menghambat aliran air, meningkatkan risiko luapan di kawasan permukiman.

Situasi paling memprihatinkan terjadi di wilayah Sarolangun. Hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang di beberapa desa, merendam rumah warga, merusak fasilitas umum, dan memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Laporan sementara menyebutkan puluhan rumah mengalami kerusakan, mulai dari dinding jebol hingga fondasi yang tergerus arus deras.

“Air datang sangat cepat, membawa lumpur dan kayu besar. Kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang,” ungkap seorang warga terdampak, menggambarkan kepanikan saat banjir bandang menerjang.

Selain merusak rumah, banjir juga memutus akses jalan desa, mengganggu aktivitas ekonomi, serta meningkatkan risiko penyakit akibat lingkungan yang tercemar. Di beberapa lokasi, genangan air bercampur sampah memperburuk kondisi sanitasi warga.

Fenomena banyaknya potongan kayu yang hanyut di Sungai Batanghari turut menyoroti persoalan yang lebih dalam.

Aktivitas penebangan liar (illegal logging) dan tambang emas tanpa izin di kawasan hulu diduga memperparah kerusakan hutan. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penahan air kini kehilangan daya dukungnya, membuat tanah lebih mudah tergerus dan material kayu terseret ke aliran sungai saat hujan deras.

Akibatnya, sungai tak lagi hanya membawa air, tetapi juga membawa jejak kerusakan dari hulu: potongan kayu, lumpur, dan sampah yang mencerminkan rapuhnya pengelolaan lingkungan.

Para pemerhati lingkungan menilai kondisi ini sebagai peringatan serius. Jika tidak ada langkah tegas untuk menghentikan aktivitas ilegal dan memulihkan kawasan hutan, maka bencana serupa berpotensi terus berulang—bahkan dengan skala yang lebih besar.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah cepat, baik dalam penanganan darurat bagi warga terdampak di Sarolangun maupun dalam upaya jangka panjang seperti penertiban aktivitas ilegal, rehabilitasi hutan, dan penguatan sistem mitigasi bencana.

Sungai Batanghari bukan sekadar aliran air—ia adalah sumber kehidupan bagi jutaan warga Jambi. Ketika sungai ini dipenuhi sampah dan kayu hanyut, yang kita lihat bukan hanya banjir sesaat, melainkan cerminan dari persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama.

Hari ini, sungai batang hari membawa pesan: alam sedang memberi tanda. Tinggal bagaimana manusia memilih untuk meresponsnya.